Monday, 20 Sep 2021

Sejarah Gereja Katedral Jakarta

Sejarah Gereja Katedral Jakarta – Gereja Katedral ialah salah satu bangunan cagar budaya Jakarta. sebelum gereja katedral Ini Sah Dijadikan Sebuah bagunan untuk Kepentingan cagar budaya, telah melalui proses panjang dalam pembangunannya. Pembangunan gereja katedral dimulai ketika Paus Pius VII. Dia mengangkat Pastor Nelissen sebagai Prefek Apostolik Hindia Belanda pada tahun 1807. Selama periode ini, Nusantara, termasuk Jakarta, memulai misi dan pembangunan gereja-gereja Katolik.

Sejarah Gereja Katedral Jakarta

ldsindex – Pada tahun 1808, Pendeta Nelissen dan Pendeta Prinsen tiba di Batavia melalui pelabuhan Pasar Ikan. Mereka kemudian bertemu dengan Dr. FCH Assmus untuk mengkaji pendirian gereja Katolik di Batavia. Beberapa th. Pastor Nelissen juga meminjam sebuah rumah bambu di sudut barat daya Buffelvelt (sekarang gedung departemen agama), yang berfungsi sebagai gereja, dan menggunakan kediaman perwira sebagai rumah gembala. Semua bangunan berikutnya dipinjam oleh pemerintah.

Baca Juga : 2 Gereja yang Berperan dalam Penyebaran Kristen di Batavia

Setahun kemudian, umat Katolik menerima tanah di sebelah barat laut Lapangan Banteng dekat pintu air untuk menggantikan rumah bambu. Karena kekurangan dana, rencana pembangunan gereja tidak terlaksana. Gereja juga meminta pemerintah Batavia untuk menambah bangunan kecil di jalur Kenanga di kawasan Senen untuk dijadikan gereja Katolik. Bangunan lain milik gubernur, yang dibangun pada 1770 oleh Cornelis Casteleijn di bawah pengawasan gubernur Van Der Parr.

Di Batavia juga terdapat gereja Protestan berbahasa Malaysia dan Belanda di gedung gubernur yang luasnya sekitar 8×23 meter persegi. Bangunan ini direnovasi dari beberapa bagian dan kemudian diubah menjadi gereja Katolik. Ini dapat menampung hingga 200 gereja. Pastor Nelissen sendiri memberkati gedung gereja dan pelindungnya adalah St. Ludovic.

Baca Juga : Museum Louvre Abu Dhabi

Bangunan gereja katedral umumnya memiliki ciri khas Eropa bergaya neo-Gothic. Bangunan katedral yang dibangun oleh seorang arsitek bernama Ir MJ Hulswit ini memiliki pintu yang tinggi dan banyak jendela. Jendela lebih lanjut dihiasi dengan lukisan yang menggambarkan peristiwa penyaliban yang dialami oleh Yesus Kristus. Tepat di bawah lukisan, di sebelah kanan dan kiri gereja, terdapat kios-kios yang berfungsi sebagai tempat pengakuan dosa. Di depan adalah altar suci yang dibangun oleh Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies. Meski sudah tua, meja altar masih digunakan sebagai altar utama dalam berbagai misa. Gereja katedral merupakan salah satu monumen budaya Indonesia yang harus dilestarikan