Saturday, 27 Feb 2021

6 Fakta Unik tentang Singkawang, Kota Seribu Kelenteng

6 Fakta Unik tentang Singkawang, Kota Seribu Kelenteng

6 Fakta Unik tentang Singkawang, Kota Seribu Kelenteng

Singkawang di Kalimantan Barat ramai jadi perhatian sementara dinobatkan sebagai peringkat pertama Kota Paling Toleran di Indonesia 2018 oleh Setara Institute. Penghargaan itu diakui tepat lantaran kehidupan harmonis masyarakatnya yang majemuk.

Singkawang terhitung dikenal bersama banyak sebutan, menjadi berasal dari Kota Amoi, Kota Seribu Kuil, hingga Hong Kong van Borneo. Kota itu jadi tidak benar satu pusat penyelenggaraan perayaan Imlek di Indonesia, tidak cuman Semarang dan Jakarta. Hal ini gara-gara Singkawang jadi daerah tinggal etnis Tionghoa terbesar di Indonesia.
Pasang Bola
Kota Singkawang, berasal berasal dari kata ‘San Kew Jong’ di dalam bhs Hakka. Artinya, kota di kaki gunung dekat muara laut, atau kota di antara gunung dan laut. Lokasinya berjarak sekitar 145 kilometer sebelah utara berasal dari Kota Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok.

Di luar itu, tetap banyak fakta unik lain tentang Singkawang. Berikut rangkumannya seperti dilansir Liputan6.com berasal dari berbagai sumber, Sabtu, 23 Januari 2021 :

1. Destinasi Perayaan Cap Go Meh

Singkawang merupakan destinasi yang ideal buat para turis yang menghendaki menikmati kebudayaan Indonesia. Salah satu budaya yang tetap cukup kental di Singkawang adalah Festival Cap Go Meh, perayaan yang dilakukan pasca-Imlek, tepatnya hari ke-15 imlek.

Rangkaian acara di mulai berasal dari beberapa hari sebelum Cap Go Meh, bersama pawai lampion dan pemberkatan tatung di vihara-vihara. Tatung adalah orang yang dirasuki roh leluhur atau para dewa. Mereka jadi kebal, tidak menjadi sakit atau berdarah sementara badannya ditusuk besi tajam dan disayat golok tajam.

Tujuan utama tatung adalah bersihkan kota berasal dari roh-roh jahat sehingga penduduk diberkati sepanjang tahun. Inilah yang jadi tidak benar satu kekuatan tarik ramainya kota Singkawang di awal tahun. Para Tatung digiring melingkari kota dan dilakukan pada pagi hari. Pertunjukan ekstrem ini merupakan aktivitas tahunan penduduk etnis Tionghoa di Singkawang.

2. Vihara dan Masjid Tertua Bertetangga di Singkawang

Salah satu wujud tingginya tingkat toleransi beragama di kota Singkawang adalah keberadaan Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang berseberangan bersama Masjid Raya, yang merupakan masjid terbesar di Kota Amoy itu.

Vihara yang kondang bersama sebutan Pekong Toa ini telah berusia hampir 200 tahun. Sampai saat ini vihara ini jadi vihara utama di Singkawang. Semua tatung yang berparade di hari Cap Go Meh kudu diberkati terutama dahulu di sini sehingga mendapat kesaktian.

Sementara itu, bangunan asli Masjid Raya telah berdiri sejak 1885. Tetapi, bangunan baru didirikan lebih megah pada 1936 untuk menukar masjid yang habis terbakar. Apabila dilihat berasal dari segi Vihara, muncul seolah kedua daerah ibadah itu bersisian satu serupa lain.

3. Kerukunan Antarumat Beragama

Kota Singkawang punya kerukunan antar-umat beragama yang benar-benar tinggi. Penduduknya mayoritas Melayu, Tionghoa, dan Dayak. Masjid dan vihara tertua yang bertetangga tadi adalah tidak benar satu contoh kerukunan tersebut.

Masyarakat yang meyaksikan pertunjukan Cap Go Meh pun tidak cuma penduduk Tionghoa, dapat tetapi berasal dari berbagai suku dan agama lainnya terhitung ikut menyaksikan. Begitu pula sementara perayaan agama lain, seperti menjelang Lebaran, penduduk lain yang nonmuslim pun ikut memeriahkan acara. Akulturasi budaya di kota ini benar-benar kental bersama sikap saling menghormati satu serupa lain yang senantiasa terjaga.

4. Perumahan Tionghoa Berusia Lebih berasal dari Seabad

Di sekitar Pekong Toa terdapat sebuah kawasan yang sanggup dibilang tetap cukup tradisional. Lokasi tepatnya di Gang Mawar, di samping Sungai Singkawang.

Di kawasan ini tersedia beberapa rumah Tionghoa yang berusia lebih berasal dari seratus tahun, lengkap bersama ruang serbaguna dan kelenteng kecil tertentu untuk penghuni kawasan. Walaupun telah direnovasi, jenis dan faedah bangunannya tetap dipertahankan seperti aslinya. Tidak sedikit para wisatawan yang datang ke daerah ini.

5. Patung Naga di Tengah Kota

Bagi orang Tionghoa, naga melambangkan kekuatan dan keberuntungan. Tidak heran andaikan banyak patung naga di Kota Singkawang itu. Salah satunya adalah patung naga di sedang kota, tepatnya di persimpangan Jalan Kempol Mahmud dan Jalan Niaga.

Uniknya, patung naga dibuat menghadap cenderung ke atas, bukan ke samping seperti biasanya. Ini gara-gara adanya keyakinan bahwa toko yang berhadap-hadapan bersama naga dapat bernasib sial sehingga tak tersedia pemilik toko yang senang jika patung naga dibuat menghadap tokonya.

Karena dikelilingi toko di segala penjuru, patung ini dibuat menghadap cenderung ke atas, setidaknya badannya yang melilit berasal dari bawah ke atas. Jadi, seluruh sanggup sanggup keberuntungan (hoki).

6. Kota Seribu Kelenteng

Kota Singkawang di Kalimantan Barat dikenal punya arsitektur khas oriental. Sejumlah rumah bergambar naga dan bangunan kelenteng, rumah ibadah warga keturunan Tionghoa, menunjuk tegas siapa pemiliknya. Ini tak heran gara-gara sekitar 42 prosen penduduknya adalah warga etnis Cina atau Tionghoa.

Masyarakat Tionghoa, terutama etnis Hakka, adalah penyebar keyakinan konfusianisme di sana. Hal ini tergambar berasal dari banyaknya kelenteng yang tersebar di Kota Singkawang. Tak heran jika Kota Singkawang terhitung dijuluki bersama Kota Seribu Kelenteng.

Salah satu berasal dari deretan kelenteng yang terletak di sedang kota ini adalah Vihara Tridarma Bumi Raya. Umur kelenteng ini diperkirakan sekitar 200 tahun.

Selain itu, tersedia pula pekong atau kelenteng Surga Neraka yang terletak sekitar 12 kilometer berasal dari Singkawang. Pekong ini terletak di sebuah bukit yang mengakibatkan pengunjung sanggup menikmati pemandangan kota yang dikelilingi laut dan hutan.

Kelenteng Surga Neraka mempunyai beberapa ruang. Ada ruangan yang dindingnya ditempeli kronologis gambar yang menunjukkan tahapan hidup hingga meninggal yang kudu ditempuh manusia.

Kunjungi Juga : Fakta-fakta Unik Yang Ada di Dunia

Sejumlah gambar dewa maupun dewi terpajang di dinding. Selain itu tersedia pula ruang yang menunjukkan tingkah laku apa apa saja yang dilakukan manusia sementara tetap hidup di dunia. Ada terhitung bilik yang berfaedah untuk menambahkan falsafah hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *