Wednesday, 16 Jun 2021

5 Fakta Lain tentang Banda Aceh

5 Fakta Lain tentang Banda Aceh

5 Fakta Lain tentang Banda Aceh

Banda Aceh merupakan rumah bagi banyak variasi etnis masyarakat asli Aceh maupun yang berasal berasal dari luar kota. Multikuturalisme ini nyatanya udah terjadi sejak berabad silam. Sebagaimana etnis lain, warga Banda Aceh membentuk kultur bersama dengan keunikan tersendiri.

Keragaman budaya ini pun pada akhirnya menemani kehidupan generasi demi generasi di sini. Kendati namanya udah tak lagi menjadi bunyi asing, sebagian fakta mengenai ibu kota Provinsi Aceh ini boleh menjadi belum Anda ketahui.

Cakupannya jadi berasal dari sejarah, hingga bangunan-bangunan historis, seluruh menghiasi sendi kehidupan Banda Aceh. Berikut sebagian faktanya seperti dirangkum berasal dari beragam sumber, Sabtu, 30 Januari 2021.

1. Sejarah di Balik Kemegahannya

Pertumbuhan kota ini tak lepas berasal dari dampak sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Aceh dulunya merupakan sebuah negeri tersendiri bersama dengan ibu kotanya Bandar Aceh Darussalam, kini menjadi Banda Aceh. Posisinya benar-benar strategis, yakni di pada Selat Malaka dan Samudra Hindia.

Sultan Ali Mughayat Syah merupakan sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam, dan memerintah sepanjang 10 tahun. Kendati jaman pemerintahannya relatif singkat, ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Pada jaman pemerintahannya, Banda Aceh berevolusi menjadi tidak benar satu kota pusat pertahanan. Aceh ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu-lintas jemaah haji berasal dari perompakan yang dilaksanakan armada Portugis.

Adapun Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam dibangun oleh Sultan Johan Syah pada 1 Ramadhan 601 hijriah atau 22 April 1205 di dalam tahun masehi.

Bandar Aceh Darussalam kemudian menjadi kota regional utama, tenar sebagai pusat pendidikan Islam dan poros perdagangan.

Karena itu, kota ini dikunjungi banyak pelajar dan pedagang, jadi berasal dari Arab, Tiongkok, Eropa, hingga India. Sebagian pendatang pada akhirnya menetap di Aceh dan menikah bersama dengan wanita lokal, agar menciptakan akulturasi budaya.

2. Rumah Masjid Bersejarah

Berbicara Banda Aceh, sepenggal identitasnya “berbaring” di Masjid Raya Baiturrahman. Tempat ibadah kebanggaan warga Aceh ini awalannya bernama Masjid Raya, dan dibangun Sultan Iskandar Muda pada 1022 hijriah atau 1612 masehi.

Dilihat berasal dari sisi sejarah, Masjid Raya Baiturrahman memiliki value tak ternilai bagi rakyat Aceh, sebab sejak Sultan Iskandar Muda hingga saat ini tetap berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh.

Dari banyak faktanya, Anda bisa saja belum tahu bahwa Masjid Raya Baiturrahman memiliki layanan parkir bawah tanah yang tak kalah rapi dan moderen berasal dari yang ada di mal maupun hotel bintang lima. Space ini apalagi mampu menampung puluhan mobil.

3. Bukti Multikultur

Walau kentara akan nuansa Islami, suasana berbeda akan Anda jumpai di kawasan Peunayong. Pasalnya, daerah ini merupakan wilayah pecinan yang mayoritas dihuni warga keturunan Tionghoa.

Mengunjungi Gampong Peunayong akan berikan gambaran bagaimana minoritas hidup di kota Banda Aceh. Kawasan ini terletak di Kecamatan Baiturrahman atau kurang lebih empat menit berkendara berasal dari Masjid Raya Baiturrahman.

Di sini, Anda akan mendapatkan gereja, vihara, kuil, dan masjid yang dibangun bersama dengan jarak tak berjauhan. Identitas Peunayong sebagai pecinan akan makin lama tahu kala mendekati perayaan Imlek.

Atraksi budaya juga kerap dipadukan bersama dengan kesenian lokal. Misalnya, tarian barongsai berpadu tarian seudati. Juga, disaat perayaan Thaipusam umat Hindu Tamil, barongsai ikut meramaikan arakan Dewa Muruga.

4. Kopi Khas Banda Aceh

Aceh adalah tidak benar satu daerah penghasil kopi terbaik dunia melalui varietas arabika yang tumbuh subur di wilayah dataran tinggi, terlebih di Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Gayo Lues, dan Kabupaten Bener Meriah.

Namun, di kota Banda Aceh, lahir satu variasi kopi hasil kolaborasi model arabika dan cairan nira, namanya nirapresso. Minuman ini memiliki rasa sedikit manis dan asam yang disaat diseruput akan berikan rasa dan tone unik.

Nirapresso diseduh di dalam suasana dingin, dan akan membentuk dua gradasi warna kala disajikan. Warna hitam di atas dan warna putih berasal dari cairan nira di bagian bawah.

Kunjungi Juga : Situs Artikel Online Publik Terbaru

5. Simbol Kebangkitan

Sejarah Aceh tak semata soal kejayaan jaman silam. Wilayah ini dulu diluluh-lantakkan tsunami pada 2004 silam. Namun, kelam jaman silam ini kini justru dijadikan titik balik stimulus bagi warga Aceh, dan direpresentasi melalui berdirinya Museum Tsunami di Banda Aceh.

Museum ini udah menjelma menjadi tidak benar satu ikon Banda Aceh dan udah dikenal tak cuma orang di dalam negeri, tetapi juga mancanegara. Isinya tak semata bukti-bukti peninggalan momen tsunami, tetapi pengunjung seolah dibawa merasakan momen tersebut, dan merasakan gelora kebangkitan masyarakat Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *