Wednesday, 20 Oct 2021

2 Gereja yang Berperan dalam Penyebaran Kristen di Batavia

2 Gereja yang Berperan dalam Penyebaran Kristen di Batavia Deretan gereja berusia ratusan tahun yang tersebar di seluruh kota Jakarta memiliki sejarah panjang penyebaran agama Kristen pada masa kolonial. Bangunan bersejarah berikut ini masih berdiri dan berfungsi sebagai tempat pertemuan. Berikut kami menyusun daftar lima gereja bersejarah di Jakarta yang turut menyebarkan agama Kristen di Nusantara.

2 Gereja yang Berperan dalam Penyebaran Kristen di Batavia

ldsindex РGereja Katolik Santa Maria de Fatima yang dibangun dengan gaya arsitektur khas Tionghoa ini terletak di Petak Sembilan, Jalan Pobeda III No. 47, di Desa Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Dalam buku abad ke-19 Adolf H̦cken SJ Gereja-Gereja Tua di Jakarta, bangunan ini awalnya dirancang sebagai kompleks untuk rumah seorang kapten Batavia bernama Tjoe. Pada tahun 1953, Rumah Kapten yang bernama Tjioe diakuisisi oleh Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus Jalan Raya Mangga Besar No. 55, Jakarta Barat, karena bertambahnya jumlah penduduk. Dua tahun kemudian, Maria de Fatima Stasi menjadi paroki Toasebio sendiri.

Baca Juga : Reformasi Gereja di Eropa

Setelah diubah menjadi bangunan gereja, ruang terbuka antara pintu luar dan pintu depan bangunan utama diubah menjadi bangunan gereja. Sekolah dan asrama dibangun di dekat gedung gereja untuk orang Tionghoa perantauan atau hoakiau (orang Tionghoa perantauan). Karena Gereja Santa Maria de Fatima masih mempertahankan struktur asli bangunannya, orang sering mengira bahwa bangunan ini bukan candi. Nuansa mewah masih terpancar dari atap pas, sepasang patung singa, kebanyakan pintu dan jendela berwarna merah, dan dekorasi lainnya yang masih bertahan. Bagian dalam gereja ini juga dihias dengan lampion dan kipas seperti candi. Kayu, ukiran, merah dan emas mendominasi setiap sudut, termasuk altar gereja. Empat pilar kayu merah menopang altar. Ini memiliki ukiran kayu yang menunjukkan bahwa Yesus disalibkan di Gunung Kalvari.

Gereja Sion
Gereja tertua di Jakarta warisan pemerintah kolonial Belanda ini bernuansa Eropa. Dibangun pada tahun 1693, gereja ini memiliki ciri khas gaya Romawi, yang menonjol dari pilar-pilar melengkung yang melengkung di pintu masuk gedung. Gereja Sion terletak di Jalan Pangeran Jayakarta 1, di pertemuan Jalan Pangeran Jayakarta dan Manga Dua Raya di Jakarta Barat. Hotel ini berjarak sekitar 200 meter dari Stasiun Jakarta Kota (Beos). Bangunan gereja sekarang juga menjadi situs warisan budaya Kelas A. Gereja ini dibangun di atas fondasi 10.000 batang kayu atau balok bundar tempat tinggal. Sementara itu, kegiatan-kegiatan berikut sedang dilakukan untuk menjadikan gereja sebagai bangunan tahan gempa. Pembangunan gereja sesuai dengan proyek Mr. E. Euut Verhagen dari Rotterdam. Seluruh dinding bangunan terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasir dan gula tahan panas.

Baca Juga : Berwisata ke Pustaka Tianjin Binhai Library Tiongkok

Gereja Emmanuel
Gereja yang saat ini berdiri di Jalan Medan Merdeka Timur 10, Desa Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat ini pada awalnya merupakan gereja yang dibangun melalui kesepakatan antara reformis dan Lutheran di Batavia. Gereja yang dulunya bernama Willemskerk ini merupakan peninggalan budaya Belanda. Nama Willemskerk diberikan untuk menghormati Raja Willem I, Raja Belanda dari tahun 1813 hingga 1840. Gereja ini dibangun pada tahun 1834 sesuai dengan proyek J. Gorst. Peletakan batu pertama dilakukan pada 24 Agustus 1835. Awalnya, gereja GPIB Immanuel hanya diperuntukkan bagi pejabat dari Hindia Belanda. Gereja ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan spiritual umat Protestan yang tinggal di wilayah Gambir. Pohon-pohon besar, suasana yang tenang dan tiang-tiang megah bergaya Eropa klasik menyambut semua orang yang mengunjungi Gereja GPIB Emmanuel.